Selintas kisah tentang sidang AMDAL baksil di Hotel Papandayan
Inilah kalimat yg keluar saat saya terlibat dunia luar kampus. Saya yang diamanatkan sebagai koordinator Satgas Babakan Siliwangi KM ITB mendapatkan realita dunia luar kampus. Dunia yang akan saya hadapi sebagi profesi arsitektur. Berhubungan dengan orang-orang yang berlainan ideologi. Ideologi yg saling bertolak belakang, dan terjadi perang ideologi. Kepentingan sana – sini yang secara kasat mata baik-baik saja. Selalu berburuk sangka ke orang-orang yang mendukung pembangunan di Babakan Siliwangi. Jadi saya berpikir bahwa berpikir negatif itu suatu saat akan diperlukan, walau pun tujuannya positif. Tujuan dari berfikir negatif ini adalah untuk membaca, menganalisis, dan menyusun rencana dalam menghadapi “medan perang” yg akan dihadapi. Memperkaya pengalaman agar tidak perlu meraba lagi jika saya kelak akan berhubungan dengan pemerintah kota.
Saat saya menghadiri sidang amdal yg diadakan di Hotel Grand Pasundan (Rabu,21 Januari 2009), saya melihat betapa beratnya dunia politik. Dunia yang masih belum bisa saya pahami. Sidang amdal ini dihadiri oleh berbagai golongan seperti masyarakat sekitar area pembangunan, tokoh masyarakat, pemerintah, LSM, ormas, pihak pengembang, dan mahasiswa ITB. Sidang yang katanya menghabiskan biaya 12 juta untuk menyewa tempatnya dikatakan oleh beberapa orang masih kurang bagus. Alasan yg dikatakan sidang ini kurang melibatkan masyarakat. Dalam artian masyarakat yang terlibat masih terlalu sedikit dan dari pemerintahnya juga tidak begitu kelihatan.
Ada kejadian menarik sebelum sidang ini dimulai. saya beserta dua orang teman yang tidak diundang dalam acara ini datang dengan perispan seadanya. Seadanya dalam artian tidak mandi, pakaian yangg belum diganti bermandikan parfum. Ini karena info sidang yang mendadak dan diadakan di tempat yang jauh. Sebelum acara dimulai saya melakukan registrasi. Saat hendak mendaftar salah satu dari panitia berkata, “ini cuma buat undangan saja”. Berbagai pembenaran pun dikeluarkan agar bisa masuk dan akhirnya oleh ketua panitianya diperbolehkan masuk. Saat sedang menulis di buku tamu, ketua panitianya ditegur oleh salah satu pihak pengembang yang sudah saya kenal. Terdengar sedikit perdebatan, ada kalimat yg dilontarkan oleh pihak pengembang “kok mahasiswa ini diperbolehkan masuk?!!” Cuma itu yang saya dengar.
Selesai sarapan pagi di luar hotel saya bertemu dengan dosen yang sedang menjabat sebagai koordinator BCCF. Saat saya bertanya apakah dia diundang atau tidak, dengan muka datar dia jawab tidak. “Saya kesini ilegal” dengan tegas diucapkannya.
Sangat panjang ceritanya pada saat acara dimulai. Secara garis besar isi acara adalah presentasi amdal dari pihak pengembang dan konsultan lingkungan. Selesai presentasi ada 3 sesi diskusi dan setiap sesinya diberi jatah 5 orang. Sudah pasti ada yg pro dan kontra. Setelah memperhatikan diskusi yang terjadi saya dapat menyimpulkan banyak hal.
Pertama setelah melihat orang – orang yang pro dan kontra. Mereka yang pro dengan pembangunan adalah masyarakat sekitar area pembangunan dan tokoh masyarakat. sangat terlihat bahwa orang-orang ini bukan ahli dalam lingkungan sehingga saat bekomentar mereka banyak menyinggung dari segi ekonomi dan budaya. Mereka yang kontra kebanyakan LSM lingkungan, seniman (yg berada di lahan tersebut), dan orang-orang yg ahli pembangunan.
Kedua, dalam sidang ini saya sebagai perwakilan dari mahasiswa ITB cukup kesal. Disini saya tidak dapat diberi kesempatan untuk berbicara. padahal disetiap sesi saya selalu mengangkat tangan dan moderator sempat melirik saya. Kalau dilihat dari cerita debat antara ketua panitia dengan pihak pengembang saya menyimpulkan bahwa dari mahasiswa ITB yang datang memang sudah direncanakan untuk tidak ditunjuk. Karena kalau kita mengevaluasii dari pertemuan sebelumnya mahasiswa selalu mengeluarkan pertanyaan yang sebagian besar pertanyaan tidak bisa dijawab. Ini karena mahasiswa ITB selalu bergerak berdasarkan argumentasi ilmiah dan bila ada pertemuan seperti ini saya selalu membawa teman dari jurusan Planologi yang selalu berhubungan dengan pembangunan kota. disini bisa disimpulkan kalau pihak pengembang takut dengan mahasiswa ITB. Beda dengan orang yg berkomentar yang selalu berdasarkan pendapat pribadi (sebagian besar).
Kesimpulan ketiga, di akhir sidang ditutup oleh pakar – pakar lingkungan. Isinya sebagian besar adalah mengkoreksi hasil presentasi amdal. Dari sini bisa dilihat dengan jelas bahwa masih banyak kekurangan dalam amdal yg di sajikan. Kata seorang pakar secara keseluruhan amdal itu memang asumsi, tapi asumsi yang ilmiah. Isi amdal yang disajikan tidak menerangkan prosesnya, tidak membahas dampak secara detail, dampak yang dibahas hanya yang positifnya saja sedangkan negatifnya tidak, tidak membahas dari segi transportasi, dan polusinya. Seorang pakar lingkungan dari ITB bilang “amdal Anda yang benarnya cuma 50%, sisanya nggak jelas!!” Kesimpulannya bahwa konsultan lingkungan yang merupakan bagian dari pihak pengembang tidak bisa diandalkan. Kerja yang kurang baik sangat terlihat dari banyaknya koreksi dan masukan dari para ahli.
Kawasan Babakan Siliwangi yang merupakan satu-satunya ruang terbuka hijau (RTH) di Bandung Utara tidak boleh dikomersialisasikan, karena pentingnya RTH yang fungsinya sebagai penghasil oksigen. Kawasan Babakan Siliwangin sebagai RTH adalah harga mati!!
Selama menjadi koordinator saya melihat bahwa peran mahasiswa sangat berpengaruh besar dalam hal yang satu ini, yaitu kebijakan pemerintah. Terutama mahasiswa ITB yang dipandang hebat oleh masyarakat awam. “Mahasiswa dipandang selau bergerak berdasarkan kebenaran ilmiah dan hati nurani.” Itulah yang dikatakan oleh penduduk sekitar Babakan Siliwangi kepada saya.
Salam,
Anak Punk!!
Nanta Maulana AR’06
Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma
Koordinator Satgas Baksil KM ITB

Uda,turunin aja pemerintahnya… pemerintah yang gag mampu kayak gitu kok masih menjabat ya???
salah siapa coba???
babakan siliwangi harus tetap dipertahankan sebagai RTH.
jangan biarkan urusan komersil membutakan kita dari peradaban yang justru sedang ramai ingin memperbaiki lingkungan. kalau pembangunan ini berjalan,
APA KATA DUNIA???
mari pertahankan BAKSIL!!!
salam
AR’07
IMA-G