Feeds:
Posts
Comments

pendopo_babakansiliwangi_small

Pada tanggal 27 Juni 2013 Pemerintah Kota Bandung mencabut izin mendirikan bangunan (IMB) yang sebelumnya diberikan kepada PT Esa Gemilang Indah (EGI), perusahaan swasta yang ingin mendirikan restoran di Babakan Siliwangi. Surat keputusan pencabutan IMB bernomor 503-795/BPPT Tentang Surat Ijin Pencabutan IMB Nomor 503.644.2/4067/BPPT atas nama Iwan Sunaryo (Direktur PT EGI) untuk Pemerintah Kota Bandung. Surat pencabutan IMB ditetapkan atas nama Walikota Bandung dan ditandatangani oleh Dr. H. A. Maryun Sastrakusumah MH, Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BBPT) Kota Bandung. BPPT adalah lembaga yang berwenang di bidang perizinan.

Pencabutan IMB itu dilatarbelakangi protes berbagai kalangan atas kebijakan yang dinilai mengancam kelestarian Babakan Siliwangi sebagai hutan kota dunia (world city forest). Aktivis lingkungan, seniman, penggiat organisasi masyarakat, ahli hukum, dan kalangan lainnya menentang privatisasi dan komersialisasi ruang terbuka hijau di kawasan Lebak Siliwangi yang kian menyempit. Polemik privatisasi dan komersialisasi Babakan Siliwangi seakan menjadi penanda tarik ulur kepentingan antara Pemerintah Kota, perusahaan swasta, serta warga kota Bandung yang membutuhkan ruang terbuka hijau (RTH) yang terbebas dari kepentingan ekonomi pengusaha.

Pada tanggal 20 Mei 2013 warga kota yang tergabung dalam Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi (FWPBS) mengadakan arak-arakan dari Babakan Siliwangi ke Balai Kota dengan mengusung lembaran seng yang sebelumnya menutupi hutan kota itu. Lebih dari 7000 orang turut menandatangi petisi warga yang menentang privatisasi, komersialisasi, dan alih fungsi hutan kota itu. Dalam arak-arakan ini warga secara terbuka menyatakan sikapnya untuk menolak kebijakan Pemkot Bandung yang memberi izin terhadap pembangunan restoran dan kompersialisasi Babakan Siliwangi terhadap PT EGI.

Dalam sebuah forum diskusi yang diselenggarakan oleh FWPBS di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK), Bandung, beberapa waktu lalu, Walikota Dada Rosada menjanjikan, pihaknya akan segera mencabut IMB PT EGI di Babakan Siliwangi. Pernyataan Dada segera disusul oleh desakan yang kian kuat dari kalangan warga agar pemerintah kota secepatnya mencabut IMB dan membatalkan perjanjian kerja sama (PKS) antara pemerintah kota dan PT EGI. Dalam kesempatan ini juga disepakati untuk dibentuk tim khusus agar proses pencabutan IMB dapat dilakukan sesuai dengan kaidah hukum, berjalan secara transparan dan akuntabel, serta terbebas dari kepentingan politik praktis.

DPRD Kota Bandung, yang juga sempat didatangi kalangan yang memprotes rencana pembangunan restoran itu, telah pula menyatakan kesetujuannya dengan aspirasi warga. Nota komisi telah disampaikan kepada pimpinan Dewan agar segera menyampaikan rekomendasi kepada Walikota. Dalam nota komisi antara lain dinyatakan bahwa IMB untuk PT EGI harus dicabut dan PKS antara pemerintah kota dan PT EGI harus dibatalkan. Proses ini ditempuh oleh FWPBS agar negara dapat berperan untuk menegakan hukum dan rasa keadilan masyarakat, terkait dengan upaya pelestarian lingkungan hidup dan peningkatan luas RTH di kota Bandung.

Dalam Nota Komisi A tanggal 11 Juni lalu, yang ditandatangi oleh Ketua Komisi A Haru Suandharu dan Sekretaris Komisi A Donny Kusmedi, dinyatakan bahwa perjanjian kerjasama antara pemerintah kota dan PT EGI bertentangan dengan UU 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang dan Perda No. 18 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung. Dinyatakan pula, PT EGI sudah tiga tahun sejak Agustus 2010 “tidak dapat melaksanakan kewajibannya berupa kontribusi kepada Pemerintah Kota Bandung”. Selain itu Dewan juga menekankan bahwa Babakan Siliwangi seharusnya tetap berfungsi sebagai “kawasan lindung dan kawasan publik”.

Protes warga atas ancaman alih fungsi Babakan Siliwangi telah berlangsung lama, setidaknya sejak tahun 2002. Berbagai kalangan sempat menyatakan keberatan dengan berbagai cara ketika, misalnya, tersiar rencana pembangunan kondominium di Babakan Siliwangi. Protes serupa menguat lagi belakangan ini ketika tersiar kabar bahwa pemerintah kota telah memberikan IMB kepada PT EGI untuk membangun restoran di Babakan Siliwangi, dan perusahaan itu menyatakan akan segera meletakkan batu pertama di situ. Protes dinyatakan melalui pentas seni, unjuk rasa, dengar pendapat di DPRD Kota Bandung, pembuatan petisi, publikasi pernyataan, dan sebagainya.

Hutan Kota Babakan Siliwangi merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang masih tersisa di kawasan utara Kota Bandung. Hutan kota ini termasuk ke dalam kawasan Lebak Siliwangi atau Lebak Gede, lembah di sekitar Jalan Siliwangi (dulu Dr. De Grootweg). Dari masa ke masa kawasan hutan kota ini cenderung menyempit. Hal ini merupakan cermin dari semakin menyusutnya RTH kota Bandung yang berdasar data Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) 2007 hanya sebesar 8.76% dari luas kota secara keseluruhan. Sangat jauh dari ketentuan UU No. 26/2007 Tentang Penataan Ruang yang mengamanatkan RTH sebesar 30% dari luas kota.

Pada dasawarsa 1970-an sewaktu Kota Bandung dipimpin Walikota Otje Djundjunan didirikan sebuah warung makan di tempat yang kini dikenal dengan sebutan Babakan Siliwangi sebelum bangunan itu hangus terbakar. Pada zaman pemerintahan Walikota Ateng Wahyudi di kawasan Lebak Siliwangi dibangun sarana olah raga dan gedung pertemuan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dikenal dengan Sarana Olah Raga (Sorga) dan Sarana Budaya Ganesha (Sabuga).

Pada zaman pemerintahan Walikota Aa Tarmana dibuat perjanjian kerjasama pengelolaan Babakan Siliwangi antara pemerintah kota dan perusahaan swasta. Adapun pada zaman pemerintahan Walikota Dada Rosada perusahaan swasta yang ingin membuka usaha di kawasan publik itu mendapat izin. Alih fungsi ruang publik seperti inilah yang senantiasa ditentang oleh berbagai kalangan, terlebih ketika kawasan hijau di belahan utara Kota Bandung kian hari kian tergerus oleh merebaknya bisnis properti.

Dalam rangkaian kegiatan menentang alih fungsi Babakan Siliwangi, yang diprakarsai oleh FWPBS melalui gerakan kebudayaan selama ini, tercetus pula gagasan mengenai peluang menjadikan Babakan Siliwangi dan sekitarnya sebagai arboretum atau kebun raya untuk memperkuat fungsinya sebagai paru-paru kota. Berbagai pihak juga mengusulkan untuk menjadikan Babakan Siliwangi sebagai wilayah konservasi lingkungan dan budaya. Ahli geografi T. Bachtiar dan herbarian senior Juandi Gandhi, misalnya, mengusulkan agar di Babakan Siliwangi warga menanam tetumbuhan langka, khususnya tetumbuhan yang namanya telah melekat pada toponimi di Tatar Sunda semisal biru, ganitri, kopo, loa, dan sebagainya.

Gerakan budaya yang diprakarsai oleh FWPBS melibatkan berbagai kalangan, baik perseorangan maupun lembaga. Selain sekitar 7000 orang pendukung petisi Save Babakan Siliwangi, inisiatif ini berasal dari kalangan lembaga yang antara lain terdapat Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aliansi Keluarga Sunda Nusantara (Aksan), Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Bamus Sunda, Forum Diskusi Hukum (Fordiskum) Bandung, Institut Nalar Jatinangor, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung, Paguyuban Sundawani Wirabuana, Kasepuhan Cipageran, Paguyuban Pasundan, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat, Komunitas Gerbong Bawah Tanah, Sanggar Olah Seni (SOS), Common Room Networks Foundation (Common Room), Komunitas Pelukis Mural Seng Babalan Siliwangi, Bandung Creative City Forum (BCCF), Greeneration Indonesia (GI), Komunitas Sahabat Kota, FK3I, SPK PT DI, HMTL ITB, FMN, UKSK UPI, Komunitas Backsilmove, Mapala, Korgala Unpar, Wakcabalaka, dan banyak lagi. ***

Menyusul pernyataan Walikota Dada Rosada baru-baru ini yang menyetujui tuntutan warga untuk membatalkan izin pembangunan restoran di Babakan Siliwangi, sejumlah tokoh masyarakat bertatap muka dengan anggota DPRD Kota Bandung, Rabu pagi (14/6), di Balai Kota Bandung. Mereka mendesak Dewan untuk mengupayakan agar penyataan walikota itu benar-benar terlaksana.

Dalam pertemuan itu warga mendesak DPRD Kota Bandung untuk segera mengupayakan agar pemerintah kota benar-benar membatalkan izin mendirikan bangunan (IMB) di hutan kota Babakan Siliwangi yang telah diberikan kepada perusahaan swasta PT Esa Gemilang Indah (EGI). Desakan itu disertai pernyataan tertulis yang antara lain berisi argumen dari aspek lingkungan, budaya, dan hukum.

Dipimpin oleh Didi Turmudzi dari Paguyuban Pasundan, rombongan warga itu antara lain terdiri atas veteran Solihin GP, pengacara Dindin Maolani, seniman Tisna Sanjaya, Darmawan “Acil Bimbo” Hardjakusumah, Aat Soeratin, aktivis lingkungan Dedi Kurniadi, pengusaha Nanang Ma’soem, politisi Deddy Djamaludin Malik, Memet Hamdan, Herman Ayub, dll.

Pertemuan di ruang sidang DPRD Kota Bandung itu dipimpin Haru Suandharu, Ketua Komisi A. Ia didampingi antara lain oleh Wakil Ketua Komisi C. Hadir pula beberapa pejabat dari Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bandung.

Dalam tanggapannya atas aspirasi warga, Haru Suandharu antara lain menyatakan, DPRD Bandung sependirian dengan warga yang menghendaki agar hutan kota Babakan Siliwangi tidak beralih fungsi menjadi tempat usaha swasta. Dikatakan, Komisi A DPRD Kota Bandung pada 11 Juni lalu mengajukan rekomendasi kepada pemimpin Dewan agar menindaklanjuti tuntutan warga Bandung yang menghendaki agar IMB kepada PT EGI dibatalkan dengan kelestarian ruang terbuka hijau.***

Ahli geografi dan penjelajah Cekungan Bandung T. Bachtiar mengimbau segenap warga Bandung untuk menanami Lebak Siliwangi dengan pepohonan langka yang terabadikan dalam nama tempat di Tatar Sunda. Pepohonan itu adalah kopo, bihbul, loa, ganitri, dan masih banyak lagi. Dengan begitu, katanya, hutan kota di lembah dekat kali Cikapundung itu dapat berfungsi sebagai arboretum atau kebun botani.

Imbauan itu disampaikan Bachtiar dalam ceramahnya di hadapan banyak kalangan yang berkumpul di Babakan Siliwangi, Bandung, Rabu siang (05/06). Ceramahnya merupakan kegiatan utama dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diselenggarakan oleh Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi.

Seusai menyampaikan ceramah seputar pentingnya Bandung memelihara lingkungan hijau terbuka, Bachtiar mengajak hadirin berjalan-jalan menyusuri kawasan hutan kota itu. Dalam ekskursi ini, dia ditemani oleh Djuandi Gandhi, kurator herbarium dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Herbarian senior itu memperkenalkan sosok pepohonan yang tumbuh di Babakan Siliwangi seperti kareumbi, rasamala, daun kahitutan, jotang, hoe, bintaro, dan berbagai tanaman lainnya.

Puluhan orang, sebagian besar kaum muda, berjalan-jalan menyusuri Babakan Siliwangi seraya menyimak penjelasan terperinci dari Djuandi layaknya mengikuti kuliah terbuka. Ekskursi yang menarik hati ini dimulai dari sekitar pohon beringin di tepi kali Cikapundung hingga ke tepian hutan kota di bawah Jalan Tamansari.

Kegiatan warga Bandung ini juga diisi dengan prosesi seni tradisi bersama seniman Mas Nanu Muda dan kawan-kawan, pertunjukan tokoh wayang Cepot oleh seniman sarat bakat Asep Berlian, pertunjukan wayang singkat oleh Ki Dalang Opik Sunandar Sunarya, performance art oleh Agung Jek dan kawan-kawan, serta pembacaan puisi Sunda oleh penyair Chye Retty Isnendes.***

babakan_siliwangi

Minggu 12 Mei 2013, PT EGI mengadakan konferensi pers bahwa mereka sudah memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) dan akan merealisasikan rencana pembangunan restoran di Babakan Siliwangi. Peletakan batu pertamanya bahkan ditargetkan sebelum bulan Ramadhan tiba. Menanggapi hal itu, Selasa 14 Mei 2013, bertempat di Aula Paguyuban Pasundan, Jl. Sumatera Kota Bandung, sejumlah tokoh masyarakat Kota Bandung berkumpul untuk menolak pembangunan restoran tersebut. Gerakan “Merebut Kembali Babakan Siliwangi” ini terus berlanjut.

Pada Senin, 20 Mei 2013 Semua elemen masyarakat yang peduli dengan Babakan Siliwangi berkumpul di Babakan Siliwangi untuk melakukan aksi berupa orasi, atraksi kesenian, pembukaan seng yang menutupi Babakan Siliwangi, dan menyampaikan penolakan kepada Pemerintah Kota. Seng Babakan Siliwangi ini selanjutnya dipamerkan di Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) Bandung. Penolakan terhadap komersialisasi Babakan Siliwangiini akan terus berlanjut selama Pemerintah Kota Bandung dan PT EGI bersikukuh untuk mendirikan restoran atau komersialisasi Babakan Siliwangi

Persoalan rencana komersialisi Babakan Siliwangi sudah berlangsung sejak lama. Berbagai gerakan untuk memprotes rencana itu dilakukan warga Bandung. Akan tetapi, PT EGI dan Pemerintah Kota Bandung tetap keukeuh akan membangun restoran di Babakan Siliwangi. Hasrat kapitalisme telah membelenggu Pemerintah Kota sehingga tidak ada kebijakan untuk menghentikan rencana komersialisasi Babakan Siliwangi. Pemerintah Kota dan PT EGI bahkan memiliki hasrat yang sangat besar untuk ngageugeuh atau menguasai Babakan Siliwangi dan merampasnya dari warga kota.

Babakan Siliwangi adalah hutan kota dan ruang publik milik warga. Karena ia ruang publik yang di dalamnya warga kota dapat belajar, bermain, beraktivitas, ia tidak boleh dikomersialisasi dalam bentuk apa pun. Ia mesti tetap menjadi ruang milik warga kota, bukan ruang yang dikuasai segelintir orang demi kepentingan komersil atau kepentingan apa pun yang menguntungkan pihak-pihak tertentu saja

Kekuasaan di Ruang Publik
Dalam konsep ruang publik, Habermas menyatakan bahwa sesungguhnya kekuasaan berasal dari bawah, dari rakyat, bukan dari pemerintah atau birokrat. Ruang publik bukan ruang bagi kepentingan kaum elit politik dan pengusaha. Ruang publik adalah ruang bagi warga untuk memperbincangkan persoalan-persoalan publik, beraktivitas, bermain, belajar, dan melakukan berbagai kegiatan lain. Oleh sebab itu, warga kota berhak untuk ngageugeuh atau “menguasai” Babakan Siliwangi karena Babakan Siliwangi adalah milik mereka.

Konsep menguasai di sini berasal dari konsep “kekuasaan” yang dinyatakan Hannah Arendt. F. Budi Hardiman dalam buku Ruang Publik: Melacak Partisipasi Demokratis dari Polis sampai Cyberspace menjelaskan bahwa “kekuasaan” (Macht) menurut Arendt adalah gerakan solidaritas atau partisipasi warga. Hal inijustru berbeda dengan dominasi struktural yang dimiliki oleh sebuah rezim. Dominasi struktural yang dimiliki sebuah rezim lebih tepat disebut dengan istilah lain, yaitu “kekerasan” (Gewalt).

Dalam konsep kekuasaan ini, tidak terdapat kemampuan untuk memaksa atau memerintah orang lain, melainkan pada kenyataan bahwa warga negara berkumpul dan bertindak bersama untuk mengubah keadaan. Lokus kekuasaan di sini tidak berasal atau bukan berada di meja-meja para birokrat atau pun di kantor-kantor para pengusaha, melainkan di dalam forum-forum, inisiatif-inisiatif, atau gerakan-gerakan warga yang peduli dengan kepentingan publik. Hutan Kota Babakan Siliwangi adalah ruang publik yang di sana warga kota memiliki “kekuasaan”untuk membuka forum-forum, mendiskusikan inisiatif-inisiatif, gerakan-gerakan untuk kepentingan publik, dan berbagai aktivitas lainnya.

Warga kota mesti bergerak untuk menjaga dan mempertahankan agar hutan kota miliknya itu tidak dirampas untuk kepentingan komersial yang menguntungkan kapitalis. Warga kota mesti melakukan gerakan untuk menyampaikan aspirasi mereka, melawan dominasi kapitalis dan kesewenang-wenangan pemerintah. Hutan kota Babakan Siliwangi adalah “rumah” bagi kepublikan warga kota.

Mitos “Hijau” dan Hegemoni Kapitalis
Dalam konferensi Persnya, PT EGI mengatakan bahwa pembangunan restoran di Babakan Siliwangi tidak akan merusak lingkungan karena PT EGI akan mengusung konsep “Keep Baksil Green”. Jika dilihat dalam pandangan Barthes, penggunaan konsep “Keep Baksil Green” dapat dikategorikan sebagai mitos. Mitos adalah sebuah bentuk distorsi, deformasi, atau sebuah topeng. Mitos bekerja dengan “perampokan bahasa” (language robbery).

Penggunaan konsep “Keep Baksil Green” adalah sebuah perampokan bahasa. Kata “hijau” (green) yang merujuk pada sebuah gerakan pelestarian lingkungan atau gerakan ramah lingkungan (go green, keep green, green lifestyle) dirampok demi kepentingan komersial dan menutupi tindakan perusakan lingkungan. Pembangunan restoran di lahan hutan kota bagaimana pun akan menyebabkan kerusakan lingkungan dan merampas hak warga kota atas ruang publiknya. Mitos bekerja dengan cara pewajaran atau naturalisasi sehingga hal ini dapat ditutupi.

Dengan konsep hijau ini, mitos akan bekerja membuat warga kota mempercayai bahwa tidak terjadi apa-apa di Babakan Siliwangi, semuanya berjalan dengan wajar tanpa ada yang harus dipertanyakan atau diprotes. Dengan hal ini pula, hegemoni kapitalis akan mendominasi wargakota. Tony Thwaites, et.al., dalam Introducing Cultural and Media Studies: Sebuah Pendekatan Semiotik; menyatakan bahwa hegemoni adalah bentuk ideologi yang di dalamnya nilai dan kepentingan kelompok hegemonik dialami oleh kelompok lainnya sehingga menjadi milik mereka sendiri, dan telah disetujui.

Hegemoni masuk ke dalam kehidupan orang tanpa mereka sadari bahwa mereka telah dikuasai oleh hal tertentu. Mereka akan menganggap dan menyadari bahwa hal tersebut adalah bagian dari hidupnya. Dengan hegemoni, pembangunan restoran di Babakan Siliwangi hadir seakan-akan sebagai hal yang natural, harus kita terima, setujui, dan kita dukung.

Pembangunan restoran di Babakan Siliwangi belum dilakukan, mesti sudah dipastikan akan dilakukan Pemerintah Kota Bandung dan PT EGI. Belum terlambat untuk mencegah (tidak hanya menolak) pembangunan itu. Warga kota mesti bergerak dan menunjukkan bahwa warga kotalah nungageugeuh Babakan Siliwangi, bukan segelintir orang yang memiliki modal itu! Dan menunjukkan kepada mereka, Ieu leuweungaing, lain nu maneh!***

Jejen Jaelani,
Anggota Forum Studi KebudayaanInstitut Teknologi Bandung

03_foto_pembukaan_pameran_s3Abah Cakra, sesepuh jawara Kota Bandung memberi sambutan pembukaan.

Ratusan warga Bandung menghadiri pembukaan pameran seri rupa “S-3: Senisasi Seng Siliwangi” di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK), Jl. Naripan 7, Bandung, kemarin malam (25/05).

Hadirin yang berdatangan meliputi berbagai kalangan. Di antara mereka ada pemerhati seni Aminuddin TH Siregar dan Acep Iwan Saidi, seniman dan penggiat seni Gustaff Harriman Iskandar, akitivis politik Hidayat Wijaya Kusuma, penyair Matdon, penulis Monna Sylviana, penulis Setiaji Purnasatmoko, aktivis lingkungan Taufan Suranto, keluarga keturunan Dalem Bandung Wiranatakusumah, jurnalis, dan mahasiswa.

04_foto_pembukaan_pameran_s3Isa Perkasa, Tisna Sanjaya, & Diyanto mengekspresikan kritik & refleksi sejarah gerakan kebudayaan di Kota Bandung.

Acara itu diisi dengan performance art oleh seniman Mas Nanu Muda, Isa Perkasa, dan Diyanto, serta pembacaan puisi oleh penyair Deddy Koral dan Hikmat Gumelar. Turut memberikan sambutan dalam acara yang sama antara lain Direktur Walhi Jabar Dadan Ramdan, pendiri Paguyuban Sundawani Wirabuana Robby Maulana Dzulkarnaen, pupuhu Aliansi Kulawarga Sunda Nusantara (Aksan) Yuke Muhammad Solihin, seniman Ropih Amantubillah, budayawan Aat Soeratin, juga tokoh jawara Abah Cakra dan Ki Murtala.

Dalam orasinya yang menandai pembukaan pameran ini, seniman Tisna Sanjaya sebagai salah seorang penggagas pameran ini antara lain mengatakan, pameran “Senisasi Seng Siliwangi” merupakan bagian dari gerakan budaya untuk memperjuangkan kelestarian hutan kota Babakan Siliwangi dan ruang terbuka hijau lainnya di kota Bandung. Kegiatan ini diharapkan menjadi semacam oase budaya yang diperlukan untuk memulihkan kesadaran segenap warga kota akan pentingnya lingkungan alam hijau yang terjaga dari berbagai ancaman keserakahan kuasa politik dan ekonomi yang cenderung menistakan alam dan hak warga kota.

Tisna juga mengatakan, pameran seni rupa ini akan berlangsung selama tiga minggu. Selama pameran di tempat yang sama akan pula diselenggarakan diskusi, pentas seni, cermah, dan lain-lain dengan tujuan mempertemukan berbagai kalangan warga kota yang perduli akan kelestarian hutan kota.

01_foto_pembukaan_pameran_s3“Anu ngabela Babakan Siliwangi kudu budak ngora anu bebas kepentingan!” Yoke Muhamad Solihin (Perkumpulan Aksan)

Dalam pameran ini masyarakat dapat mengamati lukisan dan gambar pada media seng yang berasal dari pagar yang sempat menutupi hutan kota dunia Babakan Siliwangi, foto dan video mengenai kegiatan warga Bandung dalam upaya bersama memperjuangkan kelestarian Babakan Siliwangi, khususnya menyangkut arak-arakan budaya pada 20 Mei lalu. Pengunjung pameran juga dapat menyimak petisi Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi yang menolak kebijakan Walikota Bandung Dada Rosada yang mengizinkan perusahaan swasta PT Esa Gemilang Indah (EGI) untuk membangun restoran di hutan kota itu.

Sementara itu pupuhu Aksan Yuke Muhammad Solihin mengemukakan, pihaknya akan menggelar pentas rampak kendang di Babakan Siliwangi pada 7 Juni mendatang. Dikatakan, kegiatan yang akan melibatkan sejumlah besar penabuh kendang itu merupakan bagian dari upaya warga kota untuk menunjukkan rasa memilikinya akan hutan kota dunia Babakan Siliwangi.***

Pagi ini, mulai jam 07.30 WIB, sekitar 200 mahasiswa peserta Indonesia Student and Youth Forum, yang bekerja sama dengan Sahabat Walhi menanam pohon di Babakan Siliwangi.

Peserta Indonesia Student and Youth Forum datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Kali ini di antara mereka ada pula peserta yang datang dari tempat belajar mereka di Malaysia dan Filipina. Para mahasiswa berusia sekitar 17 – 20 tahun itu dipilih dari sekitar 1.013 pendaftar berdasarkan kegiatan sosial di daerah masing-masing.

“Kedua ratus peserta forum ini diajak ke Baksil untuk penanaman pohon sebagai perlawanan terhadap pembangunan di Babakan Siliwangi, lalu menyampaikan petisi penolakan juga,” tutur Nurul Asri Mulyani, mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad yang mengikuti forum itu.

Sementara itu kemarin aktivis Walhi Jabar mendapati tenda yang mereka pasang di Babakan Siliwangi dibongkar oleh orang tak dikenal. Perlengkapan tenda berukuran 4 X 5 meter itu ditemukan tercampak di selokan.

Warga Bandung yang menolak perusakan Babakan Siliwangi sepakat untuk mendirikan tenda darurat di hutan kota dunia itu. Para aktivis akan secepatnya mendirikan kembali tenda di sana.***

Undangan Terbuka: [Pameran S-3] Senisasi Seng Siliwangi | 25 Mei – 14 Juni 2013
Tempat: Gedung YPK Naripan, Jl. Naripan no. 7
Pembukaan: Sabtu, 25 Mei 2013, pk. 18.30 WIB – selesai

Pengantar
“Senisasi Seng Siliwangi” adalah judul pameran seni rupa yang akan diselenggarakan di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK), di Jalan Naripan No. 7, Bandung. Pameran ini merupakan lanjutan dari gerakan budaya menentang komersialisasi Babakan Siliwangi, hutan kota dunia di Bandung. Dengan senisasi seng, terkandung maksud untuk mempertanyakan komersialisasi hutan.

Karya seni yang akan dipamerkan berupa gambar pada media seng. Lempengan sengnya berasal dari pagar yang menutupi Babakan Siliwangi. Kerubung seng itu dibuat oleh PT Esa Gemilang Indah (EGI), perusahaan swasta yang mendapat izin mendirikan bangunan dari pemerintah Kota Bandung pimpinan Walikota Dada Rosada. Warga kota memprotes kebijakan tersebut dengan menggambari pagar seng itu. Baru-baru ini berbagai kalangan warga kota membongkar pagar itu lalu mengusungnya dalam bentuk arak-arakan budaya ke Balai Kota.

Seniman lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Muhammad Zico Albaiquni dan kawan-kawan, dengan dibantu oleh seniman Tisna Sanjaya, Diyanto, Isa Perkasa, Deden Sambas, dan lain-lain telah menata lukisan-lukisan seng karya puluhan seniman Bandung itu di ruang pameran. Lukisan-lukisan itu tergantung bertumpuk memenuhi dinding galeri. Sebagian lainnya ditumpuk di atas meja kayu di dalam ruangan, membentuk instalasi.

Pameran ini akan dibuka pada Sabtu, 25 Mei 2013, jam 18.30 WIB. Sesepuh Siliwangi Letjen TNI (Purn.) Dr. (HC) Solihin G. P. diharapkan akan membuka pameran ini. Acara pembukaan pameran akan diisi dengan orasi, seni pertunjukan, dll. Pameran ini akan berlangsung selama tiga minggu. Pameran ini, termasuk acara pembukaannya, terbuka untuk umum dan tidak memungut bayaran kepada pengunjung.

Senang sekali hati kami jika Saudara sekalian sudi meluangkan waktu untuk menghadiri acara pembukaan pameran ini.

Salam hormat,

Hawe Setiawan
Bagian Publikasi Pameran S-3

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 731 other followers